Di antara tujuh turnamen bulu tangkis perorangan bergengsi, wakil Indonesia hanya merebut satu gelar. Fakta itu menunjukkan bahwa bulu tangkis Indonesia berada dalam titik terendah.
—
SATU-satunya gelar tersebut dipersembahkan oleh ganda campuran terbaik Indonesia Nova Widianto/Liliyana Natsir pada Januari lalu di Malaysia super series. Setelah itu, pada lima turnamen super series lain plus kejuaraan dunia di India, tidak satu pun gelar direbut pebulu tangkis Indonesia. Baik pebulu tangkis pelatnas maupun nonpelatnas.
PB PBSI selaku pihak yang paling bertanggung jawab atas pembinaan bulu tangkis tanah air mengakui buruknya prestasi pebulu tangkis tanah air. Mereka mengatakan, ada yang salah dalam proses pembinaan beberapa tahun terakhir.
”Di masa lalu, kita memang terlalu mengandalkan pemain senior dengan ambisi memburu gelar. Kita lupa menyiapkan para pemain junior,” tutur Sekjen PB PBSI Jacob Rusdianto kemarin (9/1).
Jacob menuturkan, akar kegagalan Indonesia adalah gap yang jauh antara senior dan junior. Akibatnya, ketika performa para senior mulai menurun, generasi penerusnya belum siap. ”Mau tidak mau, sekarang kita harus siap paceklik prestasi. Sekarang kami terus mengasah pemain junior. Mungkin, dua atau tiga tahun lagi baru terlihat hasilnya,” urai Jacob.
Untuk mengasah kemampuan para pemain junior, saat ini PBSI lebih mengutamakan mengirim pemain-pemain pelapis di even-even level kedua sampai keempat. Misalnya, gold grand prix, grand prix, dan international challenge.
Memberikan lebih banyak kesempatan kepada atlet junior untuk merasakan atmosfer pertandingan di luar negeri tentu saja membutuhkan biaya besar. Untuk tujuan itu, PB PBSI tidak segan membuat gebrakan. Mereka lebih selektif dalam mengirimkan pebulu tangkis senior mengikuti even sekelas super series. Pada even terdekat, yaitu Tiongkok Masters Super Series, PB PBSI bahkan tidak mengirimkan seorang wakil pun.
Tiongkok Masters Super Series akan diselenggarakan di Changzhou pada 15-20 September nanti. Pada tahun-tahun sebelumnya, PB PBSI selalu menerjukan pemain pelatnas di even itu.
“Setelah Kejuaraan Dunia 2009, kami mencoba menentukan skala prioritas dalam mengirim pebulu tangkis utama. Kami tidak mau asal kirim,” terang I Gusti Made Oka, wakil ketua II PBSI.
“Di Tiongkok, ada dua even super series. Setelah melakukan evaluasi, bidang pembinaan prestasi memutuskan absen (di Tiongkok Masters Super Series) dulu dan mengikuti Tiongkok Terbuka Super Series,” tambah Jacob. Tiongkok Terbuka akan dihelat pada 17-22 November mendatang.
Keputusan PB PBSI untuk tidak mengirimkan wakil pelatnas di Tiongkok Masters berpeluang menimbulkan kritik dari tuan rumah. Sebab, di bulu tangkis, ada semacam komitmen tidak tertulis bahwa negara yang menjadi kekuatan besar bulu tangkis harus saling mengirimkan wakil pelatnas di setiap even bergengsi yang diselenggarakan. Pada Indonesia Open lalu, Tiongkok tampil full team, termasuk Lin Dan.
Namun, apa boleh buat, PB PBSI harus berani mengambil sikap itu. Setelah mengalami rentetan kegagalan, sebaiknya pemain utama pelatnas saat ini di-drill. Itu sesuai dengan komitmen pelatnas awal tahun lalu, yakni pemain yang gagal memenuhi target dalam dua even internasional beruntun akan dihukum tidak dikirim ke luar negeri selama beberapa saat. Selanjutnya, dana pengiriman atlet senior bisa digunakan untuk mengirimkan atlet junior ke luar negeri.
Toh, masih pada bulan ini, ada even super series di Jepang pada 22-27 September. Di sana, pelatnas akan menurunkan pemain, termasuk ganda pria terbaik Markis Kido/Hendra Setiawan. (nar/fim/ang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar