Disclaimer: sumpah pak bukan punya saya!
Genre: Humor
Rating: K+
Main Character: Lin Dan
Warning: nggak ada. Siap-siap aja muntah.
Timeline: 2004
Li yong Bo sedang asyik mengintruksi para anak buahnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah, Bao Chunlai, Chen Jin, Xie XingFang, Cai Yun, Fu Haifeng, Zhang Ning, Zu Lin, Lu Lan, Zheng Bo, He Hangbin, Yu Yang, Ma Jin, dan Lin Dan.... lho, mana Lin Dan? Lin Dan!! Lin Dan!!! Lin Dan!! Ya ampun, tuh orang ternyata lagi duduk di pojokan. Udah kayak rayap aja si Lin Dan, duduk duduk sambil bengong lagi. Tapi bukan bengong juga sih. Lebih tepatnya merenung.
Iya, Lin Dan sedang merenungi perbuatannya, yang telah merugikan para rakyatnya. Wus, ngawur aja. Lin Dan lagi mikir, kenapa wajahnya jelek. Hehehehe gak deng. Lin Dan lagi pengin menyendiri aja, eh, gak juga, ya? Terus apa dong, Lin? Apakah Lin Dan sedang mem buat strategi baru? Atau sedang merencanakan doping? Atau jangan jangan lagi kesambet? Hehehehe, gak. Enggak. Semuanya salah. Ternyata Lin Dan lagi lagi mikirin kata-kata buat merayu Li Yong Bo. Lin Dan pengin minta baju. Baju baru yang gak ada lengannya. Katanya sih biar gak dikata culun. Tahun ini kan Lin Dan berumur 25 tahun. Sudah mulai dewasa. Padahal sih enggak ngaruh, tapi ya tetep aja si Lin Dan ngeyel. Walaupun niatnya ini belum ada yang tahu—selain kita. Hihihi.
“Lin Dan!!! Ngapain kamu?! Sana latihan sama BaoBao!” Teriakan Li Yong Bo terdengar. Yang tentu saja membuat si Lin Dan terkaget kaget.
“Eh, iya pak pelatih!” seru Lin Dan yang masih kelabakan.
Lin Dan berjalan menuju Li Yong Bo, disertai senyum-inocent-nya. “Ada Pak pelatih?”
“Ngapain sih kamu bengong bengong segala? Gak tau tetangga sebelah gak punya ayam apa?”
“Emang apa hubungannya saya bengong sama tetangga yang gak punya ayam?”
“Kalo kamu bengong, ayam tetangga bakal mati. Tapi kalo tetangga gak punya ayam siapa yang mati?” Tanya Li Yong Bo.
“eh, iya juga ya?” Lin Dan manggut-manggut. “ng, saya mau ngomong pak pelatih.”
“ngomong apaan? Itu juga kamu udah ngomong.” Tanya Li Yong Bo cuek.
“ng.. saya minta pembaharuan.” Kata Lin Dan terbata-bata.
“pembaharuan? Suara pembaharuan aja sekalian.” Jawab Li Yong Bo masih cuek.
“saya minta baju. Baju baru.”
“Baju baru? Nanti aja deh, nunggu lebaran.”
“Bukan. Bukan baju biasa. Tapi baju..”
“Baju kartini? Kartinian udah lewat.”
“Ih....... bukan pak pelatih!!!! Emang saya orang Indonesia. Saya minta baju baru fedex yang gak ada lengannya.”
Li Yong Bo bengong.
“Pak pelatih.”
“minta apa kamu?” Tanya Li Yong Bo yang masih gak percaya.
“Baju fedex baru yang gak ada lengannya. Kayak hyuga di captain tsubatsa.”
Li Yong Bo bengong lagi.
“pak pelatih!”
“oke, Saya kurang jelas.”
“SAYA MINTA BAJU FEDEX BARU YANG GAK ADA LENGANNYA YANG AKAN SAYA PAKAI SELAMA SAYA MENJADI PEMAIN BULUTANGKIS!!!!”
Li Yong Bo pingsan.
“Pak pelatih!!!”
“Oke, oke, saya ngerti Lin Dan. Di usia kamu pasti akan kepengin yang aneh-aneh. Tapi saya gak bisa ngabulin. Sori.”
“Tapi kenapa Pak pelatih? Saya janji akan memenangi Olimpiade Beijing. Asal anda kabulkan.”
“Lin Dan, cobalah tengok dahan dan ranting, eh maksud saya, cobalah tengok BaoBao dan ChenChen. Mereka make baju yang sama. Dan gak ada yang protes. Cuma kamu.”
“Tapi Pak.. saya akan lebih semangat kalau memakai baju itu. Huahuahuahuahuahuahuahua”
“Lin Dan, simpanlah airmata mu untuk kekealahan All England nanti kalau kamu masih gak latihan sekarang. Cepet! BaoBao udah nunggu.”
“Gak mau.” Lin Dan ngambek.
“Apa?!”
“Gak. Saya mau mogok latihan kalau Pak Pelatih masih gak ngasih baju barunya.” Kata Lin Dan kayak anak kecil.
“Lin Dan, kalo kamu masih kayak gini, saya gak akan make kamu lagi.”
“Maaf ya pak pelatih, bukannya saya mau ngatain BaoBao, tapi emang anda yakin BaoBao bisa jadi juara All England, coba lihat siapa juara bertahan All England?” Kata Lin Dan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Lin Dan?!!!?!!?!?!” Teriak Li Yong Bo yang udah kesel.
tapi Lin dan sudah berbalik dan kabur. “Saya mogok latihan.”
Lin Dan bengong ngeliatin BaoBao latihan bareng ChenChen, sebenarnya dia pengin banget latihan Cuma karena masalah ini aja dia jadi kepaksa mogok latihan. Padahal Lin Dan tuh orangnya semangat banget kalau diajak nonton meteor garden, eh, diajakin latihan maksudnya. Karena seorang atlet harus haus akan latihan, begitulah mental seorang juara. Begitu juga menurut buku yang saya baca.
“Hei, Dan! Bengong aja nih. Gak latihan.” Sapa BaoBao yang menyudahi pertandingannya melawan ChenChen.
Lin Dan mengangkat Bahu. “Lagi males,”
“Boong banget.” ChenChen ikutan nimbrung, “seorang Lin Dan males latihan? Gak mungkin,”
Lin Dan udah kayak anak ilang di kanan-kiri-in sama BaoBao dan ChenChen. “aku juga gak percaya.” Gumamnya.
“Lin Dan, jujur aja deh sama kita. Masalah Xingfang, ya?” tanya BaoBao
Lin Dan menggeleng. “bukan.”
“Super series?” tanya ChenChen.
Lagi-lagi Lin Dan menggeleng, “Kalian pikir?”
“Li Yong Bo?” tanya mereka hampir berbarengan.
Lin Dan menghela nafas, “Iya, begitulah.”
“Berantem lagi? Ya ampun.” Kata ChenChen.
“emang masalah apaan sih?” Tanya BaoBao.
“Baju baru.” Jawab Lin Dan singkat.
“Baju baru? Lebaran kan masih lama.” Kata BaoBao sambil meneguk air minumnya.
“bukan.”
“Baju kartini? Kartini kan udah lewat.” Kali ini ChenChen berkata.
“Bukan!!” Sergah Lin Dan. “Baju baru fedex. Yang nggak ada lengannya.”
“What?!! Lengan buntung!!” teriak BaoBao
“Ada-ada aja, deh, ih.”
“terserah kalian.”
“Terus terang ya, Dan, ini aneh.” Komen BaoBao.
“Tau nih. Ngikutin tren si Hyuga.” Tambah ChenChen.
“Kalian nggak ngerti!!” Lin Dan emosi.
“Emang.” Celetuk ChenChen.
“Wus,” Bao menyikut ChenChen. “Nggak kok, kita ngerti.”
Lin Dan cuek. Ia tahu teman-temannya berbohong, dan ia juga tahu kalau keinginannya itu tak mungkin di kabulkan oleh Li Yong Bo. Dia hanya bisa mengubur mimpinya dalam-dalam. Hiks hiks hiks, kok mendadak jadi sedih gini, ya?
Sudah setengah hari berjalan Lin Dan mogok latihan. Dalam hasratnya sudah ingin megang raket, nangkis kok, dll. Yang penting hal-hal berbau latihan. Tapi ini demi keinginannya yang tiba-tiba aja muncul di pikirannya 15 jam lalu. Lin Dan emang orangnya ngeyel sih. Padahal dalam sejarah perbulutangkisan belum ada tuh pemain yang make baju gak make lengan. tapi yah.. apa boleh buat. Toh tekadnya benar-benar sudah bulat, kok.
“Lin Dan!!!” Sapa Xingfang yang selama ini selalu mengerti Lin Dan yang selalu aneh.
“Hey.” Balas Lin Dan cuek.
“Ada apa sih, Dan?” Tanya Xingfang yang baru saja memulai istirahatnya.
“Nggak. Nggak apa.”
“Kalo gitu kenapa kamu nggak latihan dari tadi?”
“Lagi ada masalah.” Jawab Lin Dan singkat.
“Iya. Masalah apa?”
Lin Dan diam. Dia memang nggak ingin di olok olok lagi oleh ceweknya itu.
“Pak Pelatih?”
Lagi-lagi Lin Dan diam. Tapi kalau saja Xingfang tidak melihatnya dengan seksama, Lin Dan mengangguk pelan—pelan sekali.
“Masalah baju?”
Lin Dan menatap Xingfang kaget, “Ya”
“Dan pasti Li Yong Bo nggak ngebolehin kan?” Tebaknya tepat.
“Kamu....”
“Aku tau dari BaoBao sama si ChenChen.”
“FUCK” Umpat Lin Dan pelan.
“Jangan marah sama mereka dan Li Yong Bo, Lin Dan.” Kata Xingfang lembut. “maksud mereka kan baik, mereka Cuma pingin aku menyadarkan kamu dari hal yang nggak pernah ada ini.”
“Jadi kamu lebih percaya dan milih mereka?” Ucap Lin Dan ketus. “Hoo.. bagus, kamu nggak belain aku lagi. Nggak apa-apa kok. Aku tau kamu sekarang begitu.” Sindir Lin Dan.
Xingfang masih tersenyum geli melihat cowoknya yang kekenak-kanakan ini. “Kamu pikir aku bakal menuruti mereka?” Tanya Xingfang seolah menantang.
Lin dan yang masih terbengong dan nggak ngerti apa yang dimaksud pemain putri kesayangan Li Yong Bo ini, malah ditinggal olehnya. Xingfang pergi menuju tempat Li Yong Bo, tidak terdengar apa yang dikatakan Xingfang juga Li Yong Bo oleh Lin Dan, hanya raut muka Li Yong Bo yang kesal dan Xingfang yang masih terlihat sabar meladeni kakek tua yang banyak omong itu.
Beberapa menit kemudian, wajah mereka tersenyum, menuju ke arah Lin Dan, yang udah bosen nunggu Xingfang ampe nungging-nungging.
“Selamat, Lin Dan!!” Kata Xingfang ceria sekali. Ada sesuatu yang aneh, batin Lin Dan.
Kini, Li Yong Bo juga ikut tersenyum senang, “Saya akan menelpon menejer FEDEX untuk bilang ke humasnya untuk nyampein ke karyawannya, untul kasih tau OB nya untk nyuruh tukang jait buat jaitin baju baru kamu.” Kata Pak Yong Bo—yang mungkin lebih cocok dipanggil kakek.
“APP---PAAAAA?????” Lin Dan kaget tak percaya. Ya iya lah. Makanya nggak percaya jadi kaget.
Li Yong Bo tersenyum lagi, matanya yang sipit hampir hilang karenanya.
BRUK-----!!!!
Lin Dan jatuh pingsan dengan wajah tersenyum senang.
“Lin Dan?! Lin Dan?!”
.
.
.
Pagi ini masih dibilang sangat pagi bagi atlet yang rada males. Walaupun baru juga jam empat subuh, tapi semua penghuni pelatnas China sudah nongkrong tepat di depan gerbang tempat latihan. Mulai dari pemain, pelatih, menejer, tukang bersih-bersih semua pada ngumpul. Untuk apa lagi kalau bukan untuk nungguin hasil jaitan tukang jait terpercaya salah satu OB di Perusahaan fedex.
Kurang lebih lima menit berlalu, sebuah mobil truk FEDEX menuju tempat mereka. Sorakan pun terdengar kencang. Tapi ada satu orang yang tidak berteriak senang, Lin Dan. Oke, dua orang Lin Dan dan Xingfang. Entah kenapa, sepertinya mereka terlalu bahagia.
Seorang pengemudi yang mengendarai mobil bersejarah itu keluar dari mobil.
“Jalan Jus Buah nomer 77?” Tanya si supir memastikan bahwa ia tidak salah alamat.
“YOYOY!!!!” seru semua pemain, pelatih, dan Li Yong Bo. Termasuk Lin Dan dan Xingfang.
“Ada paket dari FEDEX.” Kata si supir.
“UDAH TAU----!!!”
“Cepetan napa, mas?!” Teriak BaoBao sinis.
“Iya, iya. Cakep cakep kok jutek.” Kata si Supir yang... rada rada bencis?!
BaoBao yang dari tadi bersemangat langsung jijik sendiri.
“Nih.” Si supir ngasih bungkusan gede ke tangan Lin Dan. Lalu ngeloyor pergi.
“Buka, Dan!” Seru semuanya.
Dengan cepat Lin Dan membuka kardus yang sangat berarti baginya itu.
SREK—SREK—SREK
“HUWA!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Teriakan terdengar sangat kencang sekali. Ya, yang terlihat dan yang muncul di balik kardus ini bukan baju baru Lin Dan, melainkan baju balet berwarna ping tulen!
“Pak, kok bisa begini?!”Omel Lin Dan pada Li Yong Bo.
“A-aa-aduh, saya juga nggak tau.” Kata Yong Bo terbata wajahnya merah pucat, sambil menelpon si supir FEDEX tadi.
“Halo, apa apaan si nih? Kok yang dikirim baju balet?!” Yong Bo ngomel-ngomel di telpon
“Aduh maap, itu punya ponakan saya. Tunggu bentar lagi, ya. Nanti saya tuker.” Kata si supir takut.
.
.
.
Dan beginilah sekarang, Sang Juara, Lin Dan, keluar dari ruang ganti baju. Menuju podium, pemberian medali emas olimpiade Beijing 2008. Ia mengalahkan Lee Chong Wei dangan baju tanpa lengannya, ia mengantar China menjadi juara Thomas cup 2008 dengan baju itu, ia meraih juara All England dengan baju itu juga.
Baju itu kini sangat bersejarah dan berpengaruh baginya. Penantian merayu Li Yong Bo, bahkan mogok latihan sepuluh jam akan selalu terkenang di hatinya. Bagi Lin Dan mogok sepuluh jam sangat lama baginya.
“AND THE WINNER... LIN DAN FROM CHINA!!” kata komentator make mik volume paling kenceng. Udah kenceng make tereak tereak lagi.
“Selamat, ya!” Ucap si pemberi medali.
Medali itu terkalung di leher Lin Dan.
Ya, di balik baju itu, dibalik baju tanpa lengan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
FIN
Note: Ni hao! Ini karya pertama saya, yang baru saja selesai beberapa detik yang lalu. Maap kalo ada kata-kata yang kurang baku dan agak gak enak ati buat dibaca. Tapi sesungguhnya saya hanyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Cerita ini sangat fiktif. Jauh dari kenyataan. Tapi kalau ada orang yang nanya, “kenapa sih, si Lin Dan make baju kayak si Hyuga?” dan jawabannya adalah ini. Hehehe.. hebat kan saya? Keren kan saya? Kreatif kan saya? Iya dong, saya gitu. Tapi sekali lagi saya minta maap sebesar beras 75kg. Kalo kalo ada yang tersinggung. Oke? Oke!
Xiexie.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar